Aku dan Mereka
Hari ini adalah hari senin, seperti biasa setiap hari senin di sekolah diadakan upacara bendera. hmm tapi sepertinya aku salah. karena aku bukan anak SMP lagi, kalau di SMPku atau mungkin semua sekolah di Indonesia upacra memang di adakan setiap hari senin. tapi semenjak memasuki sekolah Analis Kimia ini, aku merasa berbeda. upavaranya diadakan 2 minggu sekali bahkan sebulan sekali. entahlah kenapa sistemnya begitu~
waktu sudah menunjukan pukul 07.00. murid2 berkumpul dilapangan untuk melakukan upacara. sebelum upacara dimulai sesekali Bu Septi melirik-lirik aku. tapi aku mencoba kabur dari pandangannya. pasti ia melihat warna sepatuku yang bukan dianjurkan dari sekolah. Bu Septi memang terkenald engan ketegasannya terhadap murid terutama masalah kerapian. dia mengajar pelajaran bahasa inggris, tapi menurutku ia tidak terlihat seperti orang yang jago dalam bahasa inggris hehe
upacara pun di mulai, aku masih bersembunyi menutupi sepatuku yang berwarna abu-abu. ini semua karena hujan yang turun kemarin pada saat sepatuku sedang dijemur -_-
setengah jam kemudian upacara pun selesai, semua murid dipersilahkan memasuki kelasnya masing2. begitu aku melewati ruang guru, ada suara yang sepertinya mengarah kepadaku "heh kamu, sintani pake sepatu abu-abu ya?". aku menoleh ke belakang, dugaan ku benar. ingin rasanya aku mengeluarkan pintu kemana saja milik doraemon, karena semua mata tertuju kepadaku. aku langsung menuju suara itu. dan dia berkata "lepas sepatunya!". aku hanya menunduk dan berkata "jangan dong bi, nanti saya pake aapa?". tanpa peduli dia langsung melototiku dan itu membuatku semakin takut.
mau tak mau aku menuruti maunya, dan dia langsung menyuruhku kembali ke kelas. dari kantor terlihat pintu kelasku sudah tertutup dan itu semakin semakin membuatku takut.
"pasti Bu Ewi udah masuk kelas, dan gue bakalan di marahin lagi", ucapku dalam hati. aku mengetuk pintu dan membukanya perlahan. dari luar sebenarnya sudah terdengar suara ketua kelas untuk memberikan salam kepada guru.
saat itu semua teman sekelasku langsung melihatku dengan aneh, termasuk Bu Ewi. dan aku hanya mencoba tersenyum kecil seolah tidak terjadi apa-apa. tapi sepertinya senyumku pahit, dan tidak berarti dimata guru matematika itu. sehingga ia langsung bertanya dengan suara cempreng nya yang khas "abis kebanjiran neng?", terdengar sangat ketus dan menyakitkan. "maaf bu", ucapku singkat.
aku diperbolehlan duduk dengan menahan malu yang meluber, mukaku merah seperti tomat. aku mengikuti pelajarannya dengan sangat tidak semangat. sesekali bu ewi berkeliling kelas melihat jawaban soal, setiap kali memberikan soal mengenai limit turunan yang saat itu sedangn kami pelajari. kaetika melihat jawaban kami ada yang salah, dia langsung memberitahu. tapi jujur saja cara mengajar yang berkeliling itu kadang yang membuatku tidak percaya diri karena sering di komentari.
pelajaran matematika pun selesai ditandai dengan suara bel, sebelum keluar kelas bu ewi memberikan PR yang sangat banyak tentunya. bu ewi sempat melihat ke arahku dan melihat kaos kaki yang aku pakai. aku jadi malu, mungkin ia merasa ilfil dengan keadaanku yang begini. dalam hatilku berkata "aduh, ini kaos kaki bau kali ya? masa seharian sekolah dengan keadaan begini sih? malu bangeeet".
rasanya ingin menangis, karena teman2ku selalu mengejek meskipun tidak semua. pelajaran selanjutnya yaitu bahasa inggris dan itu artinya aku akan bertemu lagi dengan bu septi. perasaanku semakin tidak nyaman. begitu ia masuk kelas, ia langsung tertawa melihat kaos kaki ku. "ada apa sih sama kaos kaki gua?" aku bertanya dengan teman sebangku ku, dan dia berkata "kaos kaki lu bolong kali", di ikuti dengan tawanya yang terbahak-bahak.aaaarrrrggtt kenapa sih lu ga bilang dari tadi :(
Bu Septi langsung menyuruhku ke kantor untuk mengambil sepatuku, mungkin ia merasa kasian dengan keadaanku. di dalam hati ku menggerutu, ternyata ini penyebabnya banyaj yang melihat ke arah kaos kakiku. setelah sampai di kantor, aku tidak melihat sepatuku disana. aku langsung kembali ke kelas dan bertanya dengan bu septi, ia berkata "tadi sama ibu dimasukin ke kresek warna hitan di atas meja dekat dispenser". aku kembali ke kantor dan melihat sesuatu yang berwarna hitam, tapi isinya gorengan bukan sepatuku. aku kembali ke kelas lagi, bu septi malah menyuruhku duduk dan mengikuti pelajarannya dulu. dan yang aku herankan, kenapa sepatuku dimasukan dalam kresek? udah kaya sampah aja, menyedihkan.
saat pulang sekolahpun tiba, aku kembali ke kantor untuk bertanya mengenai sepatuku. tak ada guru, lalu aku duduk di meja panjang sebentar menunggu guru yang lain. tiba-tiba bu mira keluar daru kelas 10 dengan mimiknya yang sedikit bingung. bu mira menghampiri bu septi yang saat itu sepertinya baru keluar dari toilet. "Bu, kok gorengan saya berubah jadi sepatu ya?", kata bu mira.
aku mendengar pembicaraan mereka, terdengarsuara tawa bu septi. bu septi yang di ikuti bu mira langsung menghampiriku yang saat itu masih berada di meja panjang.
"ini sepatu kamu ya? aduh maaf ya kebawa sama ibu, pantesan kok berat ya, ibu kira itu gorengan yang ibu beli tadi pagi."
rasanya aku ingin tertawa, bu mira memang guru yang lucu, kadang tingkahnya yang polos membuatku tertawa. dia adalah guru bahasa indonesia dan bahasa sunda. menurutku itu sangat bertolak belakang. bahkan kadang saat pelajaran bahasa indonesia dia menggunakan bahasa sunda. tapi itu sangat unik hehe. itu lah bu mira~
waktu sudah menunjukan pukul 07.00. murid2 berkumpul dilapangan untuk melakukan upacara. sebelum upacara dimulai sesekali Bu Septi melirik-lirik aku. tapi aku mencoba kabur dari pandangannya. pasti ia melihat warna sepatuku yang bukan dianjurkan dari sekolah. Bu Septi memang terkenald engan ketegasannya terhadap murid terutama masalah kerapian. dia mengajar pelajaran bahasa inggris, tapi menurutku ia tidak terlihat seperti orang yang jago dalam bahasa inggris hehe
upacara pun di mulai, aku masih bersembunyi menutupi sepatuku yang berwarna abu-abu. ini semua karena hujan yang turun kemarin pada saat sepatuku sedang dijemur -_-
setengah jam kemudian upacara pun selesai, semua murid dipersilahkan memasuki kelasnya masing2. begitu aku melewati ruang guru, ada suara yang sepertinya mengarah kepadaku "heh kamu, sintani pake sepatu abu-abu ya?". aku menoleh ke belakang, dugaan ku benar. ingin rasanya aku mengeluarkan pintu kemana saja milik doraemon, karena semua mata tertuju kepadaku. aku langsung menuju suara itu. dan dia berkata "lepas sepatunya!". aku hanya menunduk dan berkata "jangan dong bi, nanti saya pake aapa?". tanpa peduli dia langsung melototiku dan itu membuatku semakin takut.
mau tak mau aku menuruti maunya, dan dia langsung menyuruhku kembali ke kelas. dari kantor terlihat pintu kelasku sudah tertutup dan itu semakin semakin membuatku takut.
"pasti Bu Ewi udah masuk kelas, dan gue bakalan di marahin lagi", ucapku dalam hati. aku mengetuk pintu dan membukanya perlahan. dari luar sebenarnya sudah terdengar suara ketua kelas untuk memberikan salam kepada guru.
saat itu semua teman sekelasku langsung melihatku dengan aneh, termasuk Bu Ewi. dan aku hanya mencoba tersenyum kecil seolah tidak terjadi apa-apa. tapi sepertinya senyumku pahit, dan tidak berarti dimata guru matematika itu. sehingga ia langsung bertanya dengan suara cempreng nya yang khas "abis kebanjiran neng?", terdengar sangat ketus dan menyakitkan. "maaf bu", ucapku singkat.
aku diperbolehlan duduk dengan menahan malu yang meluber, mukaku merah seperti tomat. aku mengikuti pelajarannya dengan sangat tidak semangat. sesekali bu ewi berkeliling kelas melihat jawaban soal, setiap kali memberikan soal mengenai limit turunan yang saat itu sedangn kami pelajari. kaetika melihat jawaban kami ada yang salah, dia langsung memberitahu. tapi jujur saja cara mengajar yang berkeliling itu kadang yang membuatku tidak percaya diri karena sering di komentari.
pelajaran matematika pun selesai ditandai dengan suara bel, sebelum keluar kelas bu ewi memberikan PR yang sangat banyak tentunya. bu ewi sempat melihat ke arahku dan melihat kaos kaki yang aku pakai. aku jadi malu, mungkin ia merasa ilfil dengan keadaanku yang begini. dalam hatilku berkata "aduh, ini kaos kaki bau kali ya? masa seharian sekolah dengan keadaan begini sih? malu bangeeet".
rasanya ingin menangis, karena teman2ku selalu mengejek meskipun tidak semua. pelajaran selanjutnya yaitu bahasa inggris dan itu artinya aku akan bertemu lagi dengan bu septi. perasaanku semakin tidak nyaman. begitu ia masuk kelas, ia langsung tertawa melihat kaos kaki ku. "ada apa sih sama kaos kaki gua?" aku bertanya dengan teman sebangku ku, dan dia berkata "kaos kaki lu bolong kali", di ikuti dengan tawanya yang terbahak-bahak.aaaarrrrggtt kenapa sih lu ga bilang dari tadi :(
Bu Septi langsung menyuruhku ke kantor untuk mengambil sepatuku, mungkin ia merasa kasian dengan keadaanku. di dalam hati ku menggerutu, ternyata ini penyebabnya banyaj yang melihat ke arah kaos kakiku. setelah sampai di kantor, aku tidak melihat sepatuku disana. aku langsung kembali ke kelas dan bertanya dengan bu septi, ia berkata "tadi sama ibu dimasukin ke kresek warna hitan di atas meja dekat dispenser". aku kembali ke kantor dan melihat sesuatu yang berwarna hitam, tapi isinya gorengan bukan sepatuku. aku kembali ke kelas lagi, bu septi malah menyuruhku duduk dan mengikuti pelajarannya dulu. dan yang aku herankan, kenapa sepatuku dimasukan dalam kresek? udah kaya sampah aja, menyedihkan.
saat pulang sekolahpun tiba, aku kembali ke kantor untuk bertanya mengenai sepatuku. tak ada guru, lalu aku duduk di meja panjang sebentar menunggu guru yang lain. tiba-tiba bu mira keluar daru kelas 10 dengan mimiknya yang sedikit bingung. bu mira menghampiri bu septi yang saat itu sepertinya baru keluar dari toilet. "Bu, kok gorengan saya berubah jadi sepatu ya?", kata bu mira.
aku mendengar pembicaraan mereka, terdengarsuara tawa bu septi. bu septi yang di ikuti bu mira langsung menghampiriku yang saat itu masih berada di meja panjang.
"ini sepatu kamu ya? aduh maaf ya kebawa sama ibu, pantesan kok berat ya, ibu kira itu gorengan yang ibu beli tadi pagi."
rasanya aku ingin tertawa, bu mira memang guru yang lucu, kadang tingkahnya yang polos membuatku tertawa. dia adalah guru bahasa indonesia dan bahasa sunda. menurutku itu sangat bertolak belakang. bahkan kadang saat pelajaran bahasa indonesia dia menggunakan bahasa sunda. tapi itu sangat unik hehe. itu lah bu mira~
Komentar
Posting Komentar